Diary Dewi Untuk Egi


Diary Dewi untuk Egi

Teriknya matahari tak menghentikan niat Dewi umtuk melangahkan kakinya ke taman di komplek perumahannya. Taman itu selalu ramai dengan para remaja setiap hari minggu pagi. Biasanya mereka bermain bola basket, sepak bola, tenis atau hanya sekedar duduk-duduk bersama sang kekasih di bawah rindangnya pepohonan. Dewi menghentikan langkahnya di pojok lapangan bola basket . Dari sana dia memandang hampa seorang pemuda tinggi yang berkulit putih. Dia selalu saja tersihir oleh pesona sang pemuda setiap ia menunjukkan keahliannya bermain bola basket.

“Hei, Wi. Loe lagi ngapain di sini?” ucap Bian yang tiba-tiba datang dan mengejutkan Dewi

“Ngg….ngg ….nggak kok cuma lagi nyari udara segeraja,”jawab Dewi dengan gugup.

“ Cari udara seger apa… cari cowok biar mata seger,” Bian menggoda Dewi.

“ Bener deh gue cuma lagi nyari udara seger abis di rumah suntuk.”

“ Tapi gue liatin dari tadi mata loe nggak kedip saat Egi main basket. Loe suka sama dia yach.”

“ Nggak , gue ngeliatin Egi soalnya dia beda aja sama dulu. Sekarang dia makin tinggi and makin keren aja.”

“ Itu sih namanya suka. Kenapa loe gak nembak aja dia?”

“ Gue malu Bi soalnya masa cewe nembak duluan sih.Harusnya kan cowo duluan yang nembak, kalau gue nembak dia duluan mau dikemanain muka gue. ”

“ SORY…….. tapi gimana dia tahu perasaan loe kalau loe aja nggak pernah coba ngedeketin dia.”

“ Nggak tahu ahh, mau dia tahu perasaaan gue mau dia gak tahu perasaan gue. Gue gak peduli yang penting gue masih bisa mengagumi dia meskipun dari jauh.”

“ Terserah loe deh.”

Malam tak mau kalah dengan siang hati dimana selalu ada matahari yang terus membuatnya terang dan dapat menghangatkan bumi. Sang malam pun tak mau kalah menunjukkan pesonanya dengan jutaan bintang di hamparan langit yang tak tahu dimana ujungnya. Bulan pun melengkapi pesona malam bersama jutaan cahaya bintang di langit. Meskipun di luar malam sangat terang dengan jutaan cahaya bintang, perjalanan kisah cinta Dewi tak sedikit pun mendapatkan terang dari sang bintang, dia masih bimbang untuk mengungkapkan perasaannya pada Egi.

Dewi teringat ucapan Bian “ Gimana dia tahu perasaaan loe kalau loe aja gak pernah ngedeketin dia.” Tapi dia malu mengungkapkan perasaannya, dia takut ditolak sama Egi. Kalau dia ditolak dia nggak bisa nyaman kalau dia ngomong sama Egi karena pastiya Egi akan gak enak hati sama dia. Bimbangnya hati tak dapat dia ungkapkan pada siapapun, hanya buku diarynyalah yang dipercayanya mengetahui bimbangnya hati.

Dear diary,

Hati ini bimbang karena cintaku tak penah sampai pada dia yang berhak menerimanya. Bukan karena dia tak mau menerimanya tapi karena aku tak pernah memberikannya padanya. Aku tak tahu harus bagaimana memberitahukannya tentang cinta ini. Aku takut dia tak mau menerima cinta yang telah lama kusimpan rapat di hatiku ini. Aku takut hatiku hancur tak dapat disatukan lagi kepingan-kepingannya agar menjadi utuh kembali. Apalagi jika dia menolakku kita tidak dapat bersahabat lagi. Emang sih aku sekarang bukan sahabatnya, aku ini cuma sahabat dari teman baiknya. Tapi setidaknya dia kenal aku dan aku gak mau dia merasa bersalah karena nolak aku. Diary , aku harus gimana? Haruskah aku mengungkapkan cintaku ini? atau tetap kusimpan dalam hati hingga datang waktu yang tepat untuk menyatakannya.

Setelah hatinya tenang lagi, dia mulai merebahkan dirinya di atas kasur empuknya. Dia memejamkan matanya meninggalkan semua keindahan malam.

“ Wi, loe udah denger belum Egi jadian sama Putri anak kelas sepuluh.”

“ Trus apa hubungannya sama gue,Bi? Gue kan bukan sahabatnya apalagi pacarnya.”

“ I…iya sih tapi bukannya loe suka sama dia.”

“ Trus kalau gue suka sama dia, gue harus apa? Marah? Nangis? atau malah ngelabrak tuh cewe yang sekarang jadi pacarnya Egi.”

“ Ya nggak gitu juga sih, gue cuma …………….”

“ Udahlah Bi, loe nggak perlu khawatir sama gue. Gue gak apa-apa kok lagian gue cuma kagum sama dia nggak lebih.” Dewi mencoba menutupi perasaannya yang sebenarnya, dia nggak mau sahabatnya khawatir.”

Bulir-bulir air dari matanya tak henti-hentinya membasahi pipi Dewi. Bulir-bulir air itu hampir saja membuat kertas di alam buku diarynya sobek.Kabar kalau Egi sudah berpacaran dengan PutrI membuat hatinya hancur.Dia tak kuasa lagi menahan perihnya rasa sakit di hatinya, dia lalu mencurahkan segala isi hatinya di buku diary kesayangannya.

Dear diary,

Hari ini Bian bilang kalau Egi jadian sama Putri, anak kelas sepuluh yang kalau diliat-liat emang cantik sih dan mungkin cocok sama Egi. Hati ini rasanya sakit dan jantung ini rasanya tak berdetak lagi. Cintaku mungkin takkan pernah sampai padanya. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh dan tak dapat lagi berharap dia menjadi milikku. Harapanku pupus sudah, jadi apa yang harus kulakukan? Melupakan semua rasa cinta yang selama ini kupendam atau tetap menyimpannya dalam hati hingga kutemukan laki-laki yang pantas menggantikan Egi di hatiku.

Hadirnya pelangi dengan segala keindahan cahayanya

Tak mampu mengindahkan hariku ini

Terangnya jutaan cahaya bintang

Tak mampu menerangi jalan cintaku

DIA

Telah menemukan cintanya

BUKAN AKU

Tapi Putri

Jantungku tak berdetak

Mendengar berita ini

Inginku berteriak

Tapi suaraku tak dapat keluar

Hanya berhenti di tenggorokan

Inginku menghampiri Putri

Tapi kaki ini tak dapat bergerak

Napasku pun berhenti

Jiwa ini juga meninggalkan raga ini

Bagaimana dengan cintaku

Haruskah hilang bersama debu yang berterbangan

Lantunan lagu D’Massi “Cinta ini membunuhku” mengiringinya ke alam bawah sadarnya dan dalam tidurnya ia berharap besok ia akan lupa dengan apa yang terjadi hari ini.

“ Hei, Wi. Loe sekarang gak pernah main ke rumah Lia lagi yach. Kenapa?”

“ Eh… hei juga Gi… emm..mm gue lagi banyak pr aja jadi gak sempet ke rumah Lia.” Hati Dewi berdebar kencang saat Egi menyapanya dan hampir saja membuatnya salah tingkah. Tapi pada akhirnya Dewi langsung sadar dan kembali bertingkah normal layaknya seorang teman biasa.

“ Loe aneh deh, loe kayaknya gak nyaman ngobrol sama gue.”

“ Oh.. nggak kok , gue cuma kaget abis loe datang tiba-tiba. Denger-denger loe jadian sama Putri yach.”

“ Iya gue jadian sama Putri. Abisnya dia imut sih dan gue emang lebih suka sama cewe yang lebih muda dari gue soalnya dia gampang diatur gak minta yang macem-macem. “

“ Oh gitu yach.”

Kini Dewi sudah kuliah di salah satu perguruan negeri ternama di Jakarta. di sana dia mengambil jurusan psikologi. Meskipun dia telah punya banyak teman baru, dia tetap tidak bisa melupakan Egi yang merupakan cinta pertamanya.Sampai sekarang Egi belum tahu perasaannya. Jadi, rencananya Dewi akan mengungkapkan perasaannya pada Egi saat Egi ulang tahun besok.

Dear diary,

Hatiku ini berdebar kencang tak kunjung berhenti , aku gugup besok aku akan mengungkapkan perasaaanku pada Egi yang telah lama kusimpan. Aku tak dapat melupakannya dari hatiku jadi kuputuskan besok aku akan pergi menemui Egi tepat di hari ulang tahunnya untuk memberitahukan semua isi hatiku. Aku telah siap menerima segala kemungkinan bahkan yang terburuk. Yang terpenting dia akan tahu bagaimana perasaaanku padanya sehingga hati ini tenang dan cinta ini mendapat kepastian.

Hati ini tak tenang

Memikirkan yang akan terjadi esok

Ku tak tahu

Apakah esok waktu yang tepat

Ungkap semua isi di hatiku

Yang sebenarnya tlah lama kupendam jauh di lubuk hatiku

Tapi

Aku butuh kepastian cintaku

Aku tak mau terus hidup dalam kebimbangan

Ku tak peduli

Dia akan menerimaku atau menolakku

Yang ku tahu

Aku akan berbuat yang benar

Tak berusaha lagi menyembunyikan rasa ini padanya

Rintik-rintik hujan membasahi bumi membuatnya sedikit tergenang air itu. Tapi itu tak menyurutkan niatnya menemui Egi dan menyatakan semua isi hatinya yang selama ini dia pendam. Dia tak sabar untuk bertemu Egi jadi dia memacu kencang mobilnya. Tiba-tiba terdengar suara DUARRR , mobilnya menabrak trotoar jalan. Tentu itu membuat mobilnya rusak parah dan nyawa Dewi melayang meninggalkan raganya.

Hujan mengiringi pemakaman Dewi seakan bumi turut bersedih melihat Dewi yang belum sempat mengutarakan cintanya pada Egi. Semua keluarga, saudara dan sahabat mengantar kepergiannya ke peristirahatan abadiya. Salah satu orang yang datang mengantar kepergian Dewi adalah Egi. Egi menangis saat mengantar Dewi ke tempat peristirahatanya. Dia tak tahu kenapa dia menangis padahal dia sendiri tak terlalu akrab dengannya. Saat pemakaman usai Bian yan merupakan sahabat Dewi memberikannya sebuah buku diary milik Dewi. Dalam diary itu dia mengetahui bahwa ternyata selama ini Dewi mencintainya dan pada salah satu halaman tertulis

Aku mencintainya hingga rasanya hati ini sesak karena aku tak dapat mengungkapkannya. Haruskah kupendam semua rasa ini selamanya dalam hatiku. Apakah cinta ini takkan pernah kuungkap hingga akhirnya jiwa ini meninggalkan raganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: